Hari ini genap merupakan hari ke-100 usia kepemimpinan SBY-Boediono. Demo besar-besaran terjadi hari ini di jalan-jalan protokol ibukota seperti Jakarta dan Bandung. Entah kenapa demo besar-besaran kali ini tidak menarik perhatian saya untuk lebih seksama memperhatikannya di layar kaca.
Demonstrasi kali ini saya pikir hambar dan kurang mengena. Apa sebab, tatkala banyak sekali orang yang mendemo pemimpin negara di Istana Negara dan di Gedung DPR/MPR, eh, sang pemimpin negara ternyata sedang “asyik” ada di Banten dan Sumatera meresmikan proyek besar PLN.
Yang mendemo dan yang didemo jadi serba tidak jelas. Apa pasal? Target demonstrasi tidak ada di tempat, dan yang demo juga tidak jelas-jelas amat. Salah satu teman saya, yang notabene dulunya adalah aktivis mahasiswa yang sering “turun gunung” dan sempat beberapa kali face to face dengan tentara, sempat-sempatnya mengirim sms ke saya begini:
“demo bayaran..! gue tau banget orang-orangnya!”.
Wew… sebagai rakyak jelata, tentunya saya tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di jalanan hari ini. Yang penting urusan perut tidak terganggu. Tetapi sungguh amat sangat disayangkan apabila maksud dan tujuan demo tersebut jadi tidak jelas kemana arahnya. Mau cari muka, cari “duit recehan” atau apa?
“Turunkan SBY-Boediono” adalah tulisan banyak terpampang di barisan pendemo. Lalu kalau SBY-Boediono turun, siapa gantinya? Pastinya seribu kepala punya seribu pilihan berbeda, kan?. Jelas bakalan ada masalah baru lagi.
Ah, kapan majunya negara ini?